Apa yang anda ketahui tentang kitab al-akidah al-wasithiyyah?

Oleh Hasan bin Daud
Diringkas dan diterjemahkan Abu Hasan Arif

Sumber : http://sahab.net/forums/showthread.php?t=345949

Kitab akidah al-washitiyah adalah kitab yang terkenal dikalangan ulama maupun pelajar. Untuk ikut serta memberikan manfaat dalam blog ini, yang saya mohon kepada Allah agar memberkahinya, saya menukil beberapa keterangan tentang kitab ini dan pengarangnya yaitu syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah yang saya nukil dari beberapa karya ilmiah.

Biodata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah :

Nasab/Silsilah keturunan : Ahmad bin Abdul Halim bin Abdussalam bin Abdullah bin al-Khidr bin Muhammad bin al-Khidr bin Ali bin Abdullah bin Taimiyah al-Harrani.
Beliau dilahirkan pada hari senin bulan Rabiul Awal tahun 661 H di kota Harran di negeri Syam.
Laqob/gelar beliau adalah Syaikhul Islam Taqiyyuddin (Seorang yang menjaga agama dan bertaqwa) dan nama kunyah/julukan beliau adalah Abul Abbas.

Keluarga Taimiyyah mashur sebagai keluarga berilmu, beragama di negeri Harran. Kakek beliau yang bernama Abu al-Barakat Majduddin adalah salah seorang ulama besar madzhab Hambali, pengarang kitab “al-Muntaqo min Akhbar al-Mustofa” kitab yang disyarah/diberi penjelesan detail oleh asy-Syaukani rahimahullah dan diberi judul “Nailul Author Syarah Muntaqo al-Akhbar”.
Adapun ayah beliau bernama Abu al-Mahasin Syihabuddin Abdul Halim, setelah meninggal kakek beliau, ayah beliau menggantikan kedudukannya, dan mengajari beliau dan saudaranya yang bernama Abu Muhammad Syarofuddin, hingga beliau mengerti dan pandai tentang fikih madzhab Hambali. Read more…

Kisah demonstrasi yang dipimpin Hamzah dan Umar radhiyallahuanhuma

Sumber : http://www.altawhed.com/Detail.asp?InNewsItemID=143534

Oleh : Ali Hasyis

Alih bahasa : Abu Hisyam Arif

Pada bahasan ini para pembaca akan disuguhi bahasan ilmiah tentang hadits kisah demonstrasi yang dipimpin Hamzah danUmar radhiyallahuanhuma, agar mengerti benar akan hakekat kisah yang mashur ini, dimana mereka yang gemar demostrasi menjadikan hadits ini sebagai dalil disyariatkan demonstrasi.

Pertama : Matan (teks) kisah ini

Diriwayatkan dari Umar bin al-Khattab radhiyallahuanhu, ia berkata : “Allah melapangkan hatiku untuk memeluk agama Islam, lalu aku mengatakan :”Allah, tiada sesembahan yang berhak disembah kecuali Dia, Dia memiliki al-Asmaa-ul Husna (nama-nama yang baik), tidak ada di bumi seseorang yang lebih aku cintai dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam”. Aku bertanya : “Dimana Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ?” Saudara perempuanku menjawab : “Dia berada di rumah al-Arqam bin Abi al-Arqam di as-Shofa”. Lalu aku mendatangi rumah itu, pada waktu itu Hamzah bin Abdul Munthalib duduk bersama para sahabat Nabi lainnya di lingkungan rumah, sedangkan Nabi berada di dalam rumah , lalu aku ketuk pintu rumah, tatkala para sahabat Nabi mengetahui kedatanganku mereka pun datang bergerombol, lalu Hamzah bertanya kepada para sahabat Nabi : “Apa yang terjadi dengan kalian?” mereka menjawab : “Ada Umar bin Khattab”. Kemudian Umar melanjutkan ceritanya : “Lalu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam datang, dan memegang baju Umar dan mendorongnya, maka Umar pun terjatuh di atas kedua lututnya, lalu Nabi bersabda : “Wahai Umar apa yang kamu inginkan.?” Lalu aku menjawab : “Saya bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu baginya, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya”. Mendengar hal ini para sahabat Nabi yang berkumpul bertakbir dengan takbiran yang di dengar orang-orang yang berada di Masjidil Haram. Aku pun berkata pada Nabi : “Bukankah kita berada di atas kebenaran baik kita mati atau hidup?” beliau shallallahu alaihi wasallam menjawab : “Benar, wahai Umar, demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya kalian di atas kebenaran baik kalian mati atau hidup”. Aku menyahut : “Lalu mengapa kita bersembunyi, demi Allah yang telah mengutusmu dengan kebenaran kita akan keluar (terang-terangan menampakkan ke-Islaman)”. Lalu kamipun keluar dalam dua barisan, Hamzah pada salah satu barisan dan saya pada barisan lainnya. Hingga kami memasuki Masjidil Haram (Ka’bah). Maka orang-orang dari suku Quraisy melihat kepadaku dan kepada Hamzah, lalu merekapun bersedih hati dengan hal ini dengan kesedihan yang tidak pernah mereka alami sebelumnya. Read more…